Disusun oleh :
1. Anisa Difa Hapsari (F100150081/3A)
2. Vinia Hanita Nahri (F10050082/3A)
Fakultas Psikologi
Universitas Muhammadiyah Surakarta
PENDAHULUAN
Media massa atau Pers adalah suatu
istilah yang mulai digunakan pada tahun 1920-an untuk mengistilahkan jenis
media yang secara khusus didesain untuk mencapai masyarakat yang sangat luas. Media masa tidak asing bagi kita, hampir setiap hari kita memanfaatkan
media masa.Menurut Nurudin (2007), media massa
adalah alat-alat dalam komunikasi yang bisa menyebarkan pesan secara serempak,
cepat kepada audien yang luas dan heterogen. Kelebihan media massa dibanding
dengan jenis komunikasi lain adalah ia bisa mengatasi hambatan ruang dan waktu.
Bahkan media massa mampu menyebarkan pesan hampir seketika pada waktu yang tak
terbatas. Semakin mudahnya akses media masa menimbulkan
pro dan kontra dalam kehidupan individu, sosial-msyarakat dan budaya.
Menurut Steven M. Chaffee efek media massa dapat
dilihat dari tiga pendekatan. Pendekatan pertama adalah efek dari media massa
yang berkaitan dengan pesan ataupun media itu sendiri. Pendekatan kedua adalah
dengan melihat jenis perubahan yang terjadi pada diri khalayak komunikasi massa
yang berupa perubahan sikap, perilaku dan perasaan atau dengan istilah lain
dikenal sebagai perubahan kognitif, afektif, dan behavioral.
Pendekatan ketiga yaitu observasi terhadap khalayak yang dikenai efek
komunikasi massa.
PEMBAHASAN
A. Media Massa Menurut Ahli
Menurut Teori Spiral of silence theory di kenal juga dengan teori spiral kesunyian, dan sering juga disebut
juga spiral kebisuan. Teori ini dikembangkan oleh Elisabeth Noelle
Neumann(1973,1980). Teori
ini mendasarkan asumsinya pada pernyataan bahwa pendapat
pribadi bergantung pada apa yang dipikirkan atau diharapkan orang lain, atau apa yang
orang rasakan atau anggap sebagai pendapat dari orang lain. Orang pada
umumnya berusaha untuk menghindari isolasi sosial, atau pengucilan
atau keterasingan dalam komunitasnya dalam kaitannya mempertahankan
sikap atau keyakinan tertentu. Teori lingkaran kesunyian
menggambarkan fenomena yang melibatkan baiksaluran komunikasi antarpribadi
maupun komunikasi masa. Media mempublikasikanopini publik, kemudian memperjelas
opini mana yang menonjol. Selanjutnya, individu-individu menyatakan opini
mereka (atau tidak, bergantung kepada sudut pandang yang menonjol). Dan
selanjutnya, media kemudian melibatkan diri kedalamopini yang diekspresikan tersebut, dan lingkaran itu
terus berlanjut. Pada beberapafenomena, teori lingkaran kesunyian dapat pula
menggambarkan bagaimana sebuahancaman-ancaman kritik dari orang lain merupakan
suatu kekuatan yang ampuh dalam membungkam seseorang.
B. Efek Media Massa
Denis McQuail (2002:425-426)
menjelaskan bahwa efek media massa memiliki empat typologi besar. Pertama, efek media
yang direncanakan. Sebuah efek yang diharapkan terjadi baik oleh media massa
sendiri ataupun orang yang menggunakan media massa untuk kepentingan berbagai penyebaran
informasi. Kedua, efek media massa yang tidak direncanakan atau tidak dapat
diperkirakan. Efek yang benar-benar diluar kontrol media, di luar kemampuan
media ataupun orang lain yang menggunakan media untuk penyebaran informasi.
Jadi, pada efek kedua ini, efek media terjadi dalam kondisi tidak dapat
diperkirakan dan tidak dapat di kontrol. Ketiga, efek media
massa terjadi dalam waktu pendek, secara cepat,
instan,dan keras memengaruhi seorang atau masyarakat. Keempat, efek media
massa dalam waktu yang lama. Sehingga mempengaruhi sikap-sikap adopsi inovasi,
kontrol sosial sampai dengan perubahan kelembagaan, dan persoalan-persoalan
perubahan budaya.
1. Efek Terhadap Individu
Umumnya kita lebih
tertarik bukn kepada apa yang kita lakukan pada media, tetapi apa yang
dilakukan media kepada kita. Hal inilah yang merupakn efek media massa.
Menurut Steven Chaffe ada
tiga pendekatan dalam melihat efek media massa, yaitu sebagai berikut :
a. Pendekatan yang pertama ialah kita cenderung melihat efek media massa, baik
yang berkaitan dengan pesan maupun media itu sendiri.
b. Pendekatan yang kedua ialah melihat jenis perubahan yang terjadi pada diri
khalayaak komunikasi massa. Perubahan ini meliputi perubahan kognitif (penerima
informasi, perubahanefektif (perubahan perasaan atau sikap), dan perubahan
behavioral (perubahan perilaku).
c. Pendekatan yng ketiga meninjau satuan observasi yang dikenai efek
komunikasi massa, meliputi individu, kelompok, organisasi, masyarakat atau
bangsa.
Dalam bagian ini akan dibahas mengenai efek pesan
media massa yang meliputi efek kognitif, efek afektif, efek behavioral.
a. Efek
Kognitif
Akibat yang timbul pada diri komunikasn yang sifatnya
informative bagi dirinya. Dalam efek kognitif ini akan dibahas tentang
bagaimana media massa dapat membantu khalayak dalam mempelajari informasi yang
bermanfaat dan mengembangkan keterampilan kognitifnya.
Media massa melaporkan dunia nyata secara selektif, maka sudah tentu media massa akan mempengaruhi pembentukan citra tentang lingkungan social yang timpang, bias dan tidak cermat. Media massa melaporkan dunia nyata secara selektif maka sudah tentu media massa akan mempengaruhi pembentukan citra tentang lingkungan social yang timpang, bias dan tidak cermat.
Media massa melaporkan dunia nyata secara selektif, maka sudah tentu media massa akan mempengaruhi pembentukan citra tentang lingkungan social yang timpang, bias dan tidak cermat. Media massa melaporkan dunia nyata secara selektif maka sudah tentu media massa akan mempengaruhi pembentukan citra tentang lingkungan social yang timpang, bias dan tidak cermat.
Efek Prososial Kognitif adalah bagaimana media massa
memberikan manfaat yang dikehendaki oleh masyarakat. Bila televise menyebabkan
kita lebih mengerti tentang bahasa Indonesia yang baik da benar, maka televisi
telah menimbulkan efek prososial kognitif. Film Sesame Street yang dirancang
para pendidik, psikolog dan ahli media massa. Setelah melalui berbagai
penelitian, terbukti film ini telah berhasil mempermudah proses belajar.
b. Efek Afektif
Efek ini kadarnya lebih tingga daripada efek kognitif.
Tujuan dari komunikasi massa bukan sekedar memberitahu khalayak tentang
sesuatu, tetapi lebih dari itu, khalayak diharapkan dapat turut merasakan
perasaan iba, terharu, sedih, gembira, marah dan sebagainya.
Kegembiraan juga tidak dapat diukur dengan tertawa keras ketika menyaksikan adegan lucu. Tetapi para peneliti telah berhasil menemukan faktor-faktor yang mempengaruhi intensitas rangsangan emosional pesan media massa. Faktor-faktor tersebut antara lain :
- Suasana emosional, menonton sebih sinetron di televisi atau membaca novel akan dipengaruhi oleh suasana emosional kita. Adegan-adegan lucu akan menyebabkan kita tertawa terbahak-bahak bila kita menontonnya dalam keadaan senang.
- Skema Kognitif, merupakan naskah yang ada dalam pikiran kita yang menjelaskan tentang alur peristiwa. Kita tau bahwa dalam sebuah film action ‘sang jagoan; pada akhirnya akan menang.
- Suasana Terpaan (Setting Exposure), Tayangan misteri di tv, membuat kita berpikir bahwa kehidupan mahluk itu adalah sebagaimana yang kita lihat dalam film atau sinetron tersebut.
Kegembiraan juga tidak dapat diukur dengan tertawa keras ketika menyaksikan adegan lucu. Tetapi para peneliti telah berhasil menemukan faktor-faktor yang mempengaruhi intensitas rangsangan emosional pesan media massa. Faktor-faktor tersebut antara lain :
- Suasana emosional, menonton sebih sinetron di televisi atau membaca novel akan dipengaruhi oleh suasana emosional kita. Adegan-adegan lucu akan menyebabkan kita tertawa terbahak-bahak bila kita menontonnya dalam keadaan senang.
- Skema Kognitif, merupakan naskah yang ada dalam pikiran kita yang menjelaskan tentang alur peristiwa. Kita tau bahwa dalam sebuah film action ‘sang jagoan; pada akhirnya akan menang.
- Suasana Terpaan (Setting Exposure), Tayangan misteri di tv, membuat kita berpikir bahwa kehidupan mahluk itu adalah sebagaimana yang kita lihat dalam film atau sinetron tersebut.
- Predisposisi Individual, mengacu pada karakteristik
khas individu. Orang yang melankolis cenderung menanggapi trahdi lebih
emosional daripada orang yang periang. Orang yang periang akan senang bila
melihat adegan-adegan lucu atau film komedi daripada orang yang melankolis.
c. Efek
Behavioral
Merupakan akibat yang timbul pada
diri khalayak dalam bentuk prilaku, tindakan atau kegiatan. Adegan kekerasan di
TV membuat orang menjadi beringas. Siaran memasak di tv membuat ibu-ibu lebih
gemar memasak dan kreatif. Namun ada juga laporan bahwa, televise gagal
mendorong pemirsanya untuk menabung di Bank. Film tidak sanggup memotivasi
remaja perkotaan untuk menghindari pemakaian obat-obat terlarang.
2. Efek terhadap masyarakat sosial
Media massa sedikit
demi sedikit membawa masuk masyarakat ke suatu pola budaya yang baru dan mulai
menentukan pola pikir serta budaya perilaku masyarakat.
Keberadaaan media massa dalam menyajikan informasi cenderung memicu perubahan serta banyak membawa pengaruh pada penetapan pola hidup masyarakat. Media memperlihatkan pada masyarakat bagaimana standar hidup layak bagi seorang manusia, sehingga secara tidak langsung menyebabkan masyarakat menilai apakah lingkungan mereka sudah layak atau apakah ia telah memenuhi standar tersebut dan gambaran ini banyak dipengaruhi dari apa yang di lihat, didengar dan dibaca dari media.
Keberadaaan media massa dalam menyajikan informasi cenderung memicu perubahan serta banyak membawa pengaruh pada penetapan pola hidup masyarakat. Media memperlihatkan pada masyarakat bagaimana standar hidup layak bagi seorang manusia, sehingga secara tidak langsung menyebabkan masyarakat menilai apakah lingkungan mereka sudah layak atau apakah ia telah memenuhi standar tersebut dan gambaran ini banyak dipengaruhi dari apa yang di lihat, didengar dan dibaca dari media.
1. Pergeseran pola tingkah laku yang diakibatkan oleh media massa dapat
terjadi di lingkungan keluarga, sekolah, dan dalam kehidupan bermasyarakat.
Wujud perubahan pola tingkah laku lainnya yaitu gaya hidup. Perubahan gaya
hidup dalam hal peniruan atau imitasi secara berlebihan terhadap diri seorang
firgur yang sedang diidolakan berdasarkan informasi yang diperoleh dari media
2. Terjadinya perilaku yang menyimpang dari norma-norma sosial atau
nilai-nilai budaya. Di jaman modern ini umumnya masyarakat menganggap hal
tersebut bukanlah hal yang melanggar norma, tetapi menganggap bagian dari trend
massa kini.
3. Masyarakat cenderung berpikir praktis.
4. Kecenderungan makin meningkatnya pola hidup konsumerisme.
5. Membunuh kreatifitas.
Rubrik dari layar TV
dan media lainnya yang menyajikan begitu banyak unsur-unsur kenikmatan dari
pagi hingga larut malam membuat menurunnya minat belajar dikalangan generasi
muda.
3. Efek terhadap sosial budaya
Arus globalisasi telah menimbulkan pengaruh terhadap perkembangan budaya
bangsa Indonesia. Derasnya arus informasi dan telekomunikasi ternyata
menimbulkan sebuah kecenderungan yang mengarah terhadap memudarnya nilai-nilai
pelestarian budaya. Mudahnya mengakses berbagai media dari berbagai negara
secara tidak sadar berpengaruh kepada kebudayaan kita.
1. Menimbulkan pola
kehidupan dinamis.
2. Acuh pada lingkungan
sosial.
3. Merebaknya
kejahatan teknologi seperti pelanggaran hak cipta / pembajakan, cybercrime
(kejahatan maya).
4. Mempengaruhi pemikiran
dan tindakan khalayak.
5. Berkurangnya
sosialisasi dengan lingkungan sekitar.
6. Kurangnya
ketertarikan pada budaya dinegara sendiri.
7. Bebasnya pergaulan
pada kalangan remaja.
Daftar Pustaka
Nasution,Zulkarimein.2014.Sosiologi
Komunikasi Massa.Banten:Universitas Terbuka.
Amalia,Risqi.2015.
Efek Tayangan On The Spot Terhadap Pesan Media Massa Bagi Mahasiswa Ilmu
Komunikasi Universitas Mulawarman.Samarinda:Jurnal Ilmu
Komunikasi.Vol.3,No 2:30-42.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar